Jalannya beraspal sepanjang 200 kilometer dan tidak perlu mobil 4x4. Tapi "beraspal" bukan berarti "jalan tol". Kecepatan rata-rata sepanjang perjalanan hanya sekitar 35–40 km/jam, karena rutenya menembus puluhan kampung tempat Anda harus merayap di belakang becak, kambing, dan anak-anak pulang sekolah.
Satu jam pertama keluar Makassar adalah bagian yang paling tidak nyaman — padat, banyak truk, dan pekerjaan jalan yang datang-pergi antar musim. Dari Jeneponto ke selatan pemandangan mulai terbuka: hamparan tambak garam, kuda merumput di padang, lalu jalur pesisir panjang lewat Bantaeng dengan laut tepat di sisi aspal. Bantaeng, kurang lebih titik tengah di jam ketiga, adalah tempat paling natural untuk berhenti minum dan meluruskan kaki.
Setelah Bulukumba Anda belok ke arah semenanjung dan suasananya berubah lagi. Empat puluh kilometer terakhir berkelok di antara kebun singkong lalu naik ke batu kapur putih, melewati galangan terbuka di Tana Beru dan Kampongpasar tempat lambung kapal phinisi berdiri di atas pasir dalam berbagai tahap pengerjaan. Ruas terakhir ini lebih sempit dan ada beberapa tikungan tajam, jadi atur jam berangkat supaya bagian ini Anda lewati saat masih terang — pemandangannya adalah hadiah dari perjalanan seharian, dan jalannya jauh lebih mudah dibaca sebelum senja.
Saat musim hujan, kira-kira November sampai Maret, siapkan diri untuk genangan dan tundaan singkat di titik-titik yang drainasenya membawa material ke badan jalan. Waktu tempuh biasanya molor sekitar tiga puluh menit, bukan berjam-jam. Longsor bukan masalah di rute ini.